Akhir – akhir ini kita banyak dipusingkan dengan pemberitaan di berbagai media yang mempermasalahkan dukungan lewat SMS untuk mendukung Pulau Komodo sebagai salah satu keajaiban alam dunia. Permasalahan yang diangkat adalah akuntabilitas dari content-provider mengenai perbedaan tarif SMS Vote dan kredibilitas organisasi New7Wonders selaku penyelenggara acara. Pemberitaan – pemberitaan ini pun memunculkan debat baru, apakah Pulau Komodo harus kita promosikan secara gencar untuk menarik kunjungan wisatawan, atau kita jaga secara tertutup untuk menjaga kelestarian alamnya ?

Ini juga bukan pertama kalinya keikutsertaan Pulau Komodo dalam New7Wonders menjadi polemik di dalam negri. Awal tahun ini, pemerintah sempat mengancam mengundurkan diri dan menarik Pulau Komodo dari kompetisi karena keengganan mereka untuk membayar sejumlah uang untuk menjadi tuan rumah pengumuman hasil voting acara tersebut. Namun, prestise sebagai salah satu calon keajaiban alam dunia mungkin menjadi alasan bagi pemerintah untuk mengurung niatan tersebut. Di sisi lain, kredibilitas dari lembaga New7Wonders juga mengundang banyak kontoversi. Selain hanya sebagai organisasi profit swasta belaka, acara ini juga tidak didukung oleh UNESCO selaku badan PBB yang mengurus kekayaan alam dunia, belum lagi dengan tudingan mengenai banyaknya iuran yang harus dikeluarkan negara peserta pada penyelenggara acara.

Gelar sebagai salah satu keajaiban alam dunia memang terlihat menggiurkan, bagaimana tidak, foto – foto serta artikel – artikel tentang pemenangnya akan menghiasi buku – buku georafi dan media – media internasional. Belum lagi para wisatawan yang berbondong – bondong untuk melihatnya secara langsung yang tentu saja menambah citra, pamor serta penghasilan bagi negara pemiliknya. Namun apakah ketenaran tersebut sepadan dengan dampak yang akan didapat oleh Pulau Komodo? Kita bisa melihatnya dari berbagai sudut pandang, namun sangat jarang kita memposisikan diri sebagai seekor Komodo yang semakin hari kehidupannya semakin banyak terganggu oleh keberadaan manusia.

Masyarakat Indonesia tentu sangat diuntungkan jika Pulau Komodo mendapat gelar sebagai salah satu keajaiban alam dunia. Kebanggaan serta suka cita, akan menjadi penghibur di tengah berbagai gejolak yang melanda negri ini. Industri pariwisata akan bergeliat dan tidak lagi terpusat di Bali. Masyarakat Pulau Komodo pun akan mendapat keuntungan dari semakin banyaknya wisatawan yang datang.

Di sisi lain kita perlu mengetahui sejumlah fakta tentang keberadaan Komodo di pulau tersebut. Komodo adalah kadal terbesar di planet ini yang mampu bertahan selama 900 ribu tahun dari berbagai siklus alam dan spesies ini hanya terdapat di Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Barat. Jumlah komodo saat ini boleh dibilang stabil dalam beberapa puluh tahun terakhir dikarenakan pembentukan taman nasional dan relatif sedikitnya jumlah wisatawan yang berkunjung. Namun, hal tersebut nampaknya akan berubah jika Pulau Komodo menjadi salah satu dari keajaiban alam dunia. Wisatawan akan semakin banyak berkunjung dan tentu akan mempengaruhi ekosistem serta habitat dari Komodo itu sendiri. Hal ini diperjelas oleh pemerintah bahwa salah satu misi mereka adalah mempromosikan Pulau Komodo ke dunia internasional sebagai wisata alam. Namun disini, pemerintah sering kali miskonsepsi mengenai status dari Pulau Komodo. Meskipun berlabel sebagai taman nasional, Pulau Komodo justru dipromosikan sebagai tempat wisata dengan mencoba menarik wisatawan sebanyak mungkin. Seperti yang kita ketahui, kehadiran umat manusia pada berbagai habitat spesies langka terbukti sangat merugikan. Interferensi,  pengrusakan ekosistem, serta pengurangan lahan habitat adalah beberapa contohnya.  Belum lagi bahayanya bagi para wisatawan yang berkeliaran di sekitar spesies berbahaya tersebut. Setiap spesies tentunya akan merasa terancam jika spesies lain mendominasi habitat. Bahkan sebuah taman nasional pun belum menjamin keberlangsungan suatu spesies  untuk terus bertahan hidup menghadapi berbagai siklus alam.

Dan sepertinya pemerintah memang harus mengkaji lagi niatan mereka dalam mendukung Pulau Komodo untuk menjadi keajaiban alam dunia. Tidak hanya untuk mempromosikan dan mengambil keuntungan dari keberadaan mereka, melainkan juga untuk memperkenalkan kepada masyarakat luar untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan warisan alam yang menakjubkan ini.

I’m Here, Waiting

Posted: October 16, 2011 in pribadi, Religi
Tags: , , ,
Wahai Engkau Yang Maha Mendengar,
Engkau Yang Maha Melihat,
Engkau Yang Maha Mengetahui isi hati,
Mengapa Engkau tidak Maha Bicara …
aku disini …
menunggu …
jawabanMu …

Jika umat manusia mampu menciptakan prosesor sebesar ibu jari dengan kemampuan milyaran pemrosesan per detik dalam jangka waktu 40 tahun saja,
maka bukankah sangat mungkin bagi Alam Semesta yang berumur 13,7 milyar tahun untuk menciptakan kehidupan di tempat lain di angkasa seluas 47 milyar tahun cahaya,
atau mungkin kita lah yang tidak menyadarinya, bahwa mereka ada di sekitar kita ?
Jalan Margonda-Depok

Jalan Margonda, jalan utama Kota Depok

Sebagai pengendara yang setiap hari melintasi jalan raya Margonda, sore tadi ada peristiwa yang cukup menyita perhatian saya. Seorang wanita paruh baya yang sedang menyebrang ruas jalan utama kota Depok itu tertabrak oleh sebuah mobil yang melaju dari arah Jakarta.  Wanita tersebut memang hanya menderita luka ringan, namun dalam pengamatan saya, peristiwa seperti ini makin sering terjadi di ruas Jalan Margonda yang memiliki 6lajur tersebut.

Dan judul di atas mungkin tepat untuk meluapkan kemirisan saya atas minimnya akses bagi pejalan kaki di Kota Depok. Kota yang pada tanggal 16 Oktober nanti menyelenggaraka pemilihan untuk memilihan walikotanya yang baru ini memang tidak memiliki akses yang memadai bagi para pejalan kaki.  Bayangkan saja, jalan sepanjang 5,4 kilometer ini hanya difasilitasi oleh 3 buah jembatan penyebrangan, dimana jarak satu sama lainnya pun terbilang cukup jauh. Ditambah Kota Depok telah berkembang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir yang tentunya menambah volume kendaraan yang melintas secara signifikan.

Ruang bagi pejalan kaki di Depok semakin menghilang setelah dilakukannya pelebaran jalan di ruas Jalan Margonda. Penambahan satu lajur tambahan ini otomatis meniadakan trotoar sebagai tempat yang aman bagi para pejalan kaki. Kini berjalan kaki di Kota Depok menjadi hal yang menakutkan untuk dilakukan, mengingat tingginya volume kendaraan, tidak adanya pepohonan untuk berteduh, tidak adanya trotoar(mulai dari pertigaan Ramanda – UI), hingga minimnya jembatan penyebrangan.

Saya harap walikota baru yang terpilih nanti, mampu menampung aspirasi masyarakat dalam hal ketiadaan fasilitas bagi pejalan kaki di Kota Depok ini. Karena tentunya, kota ini semakin berkembang menjadi pusat jasa dan perdagangan ditambah predikatnya sebagai kota pendidikan yang telah diemban sejak lama. Dan tentu saja, kita semua tak ingin lagi melihat pejalan kaki menjadi korban kecelakaan lalu lintas yang ironisnya disebabkan oleh kurangnya fasilitas.

Dimana Sayapku

Posted: March 31, 2010 in pribadi

Ketika ku berjalan, kulihat orang lain berlari dan kucoba tuk terus mengejar.

Namun ketika ku berlari, kulihat mereka sedang melompat menjunjung langit tinggi

dan kucoba tuk mengikuti.

Namun ketika ku berusaha tuk menggapai angkasa ,

kusadari bahwa aku tidak punya sayap bernama AMBISI