Filed under: 1 | Tagged: bisnis internet, domain gratis, peluang usaha, uang gratis, web murah | Leave a Comment »
Musibah, Sebuah Renungan di Bulan Ramadhan
Belum genap seminggu, tanah Jawa kembali ‘diguncang’ oleh gempa pada Senin tengah malam. Suasana malam yang tenang, berubah menjadi mencekam di kala bumi berguncang. BMKG mencatat gempa tersebut berkekuatan 6,8 skala Richter dan berpusat di 263 kilometer Tenggara Wonosari, Yogyakarta; dan tergolong kuat untuk meruntuhkan suatu bangunan. Untung saja, hingga kini belum ditemukan kerusakan yang berarti maupun korban jiwa atas musibah tersebut. Hal ini berbeda dengan gempa yang terjadi pada hari Rabu lalu yang berkekuatan 7,3 skala Richter dan berpusat di barat daya Tasikmalaya. Gempa tersebut merusak banyak infrastruktur di bagian selatan Provinsi Jawa Barat dan memakan puluhan korban jiwa, sementara ribuan lainnya harus mengungsi dan dievakuasi karena rusaknya tempat tinggal yang mereka miliki.
Gempa, adalah salah satu bencana yang tidak bisa diprediksi kehadirannya. Teknologi tercanggih sekalipun belum mampu mendeteksi bencana ini beberapa waktu sebelum kejadiannya. Hal yang paling maksimal yang bisa dilakukan manusia adalah bersikap waspada pada daerah yang berpotensi gempa, sekaligus menguasai tindakan-tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi gempa.
Musibah ini tentu sangat memprihatinkan, apalagi kita tengah berada di Bulan Ramadhan yang membutuhkan kekhusyu’an serta ketenangan dalam menjalankan ibadah. Tetapi dibalik itu semua, ada banyak hikmah yang tentunya dapat menjadi renungan untuk kita semua.
Musibah gempa yang terjadi pada Rabu lalu, ternyata mendorong banyak pihak untuk mengulurkan bantuan kemanusiaan kepada mereka yang membutuhkan. Lihat saja, banyak media-media yang membuka rekening mereka untuk membantu masyarakat mengulurkan sebagian harta mereka. Banyak pula pos-pos pendaftaran relawan untuk membantu mencari korban yang hilang atau mendirikan kembali infrastruktur yang hancur. Dan mudah-mudahan perilaku tolong menolong ini bukan hanya kita temui pada saat terjadi bencana atau pada saat bulan Ramadhan saja, tetapi meresap dalam kehidupan kita sehari-hari.
Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang tentunya membutuhkan ujian yang besar untuk membuatnya tetap kokoh berdiri sebagai bangsa yang dihargai dan dihormati di dunia, sekaligus menghormati hak-hak masyarakatnya. Mungkin dari berbagai rangkaian bencana yang menimpa bangsa Indonesia, adalah ujian untuk membuatnya belajar dari kesalahan dan menempa diri menjadi bangsa yang besar. Bencana tsunami di Aceh misalnya, ternyata melahirkan masyarakat Aceh yang damai dan bersatu. Tentu kita tidak mengharapkan adanya bencana untuk memperbaiki kualitas bangsa kita. Tetapi jadikanlah sebagai sebuah ‘teguran’ dari Tuhan bahwa kita telah melakukan kesalahan dan haruslah memperbaiki diri untuk mencapai kondisi yang lebih baik.
Apalagi di Bulan Suci Ramadhan, yang penuh berkah dan imbalan pahala. Tentu menjadi semangat kita untuk membantu mereka yang terkenaa bencana. Karena mungkin, kita sudah sangat lupa untuk berbagai terhadap sesama.
Filed under: dunia kita | Tagged: bencana, gempa, gempa jogja, gempa tasikmalaya, musibah, renungan ramadhan | Leave a Comment »
Gudbye Gaptek, Welkom Hi-Tek
Apa yang kini terjadi dalam sebulan terakhir hidup saya boleh dibilang adalah penantian selama hampir dua tahun terakhir. Setelah masa-masa ‘keras’ menghampiri, berbagai ujian, cobaan dan aral yang melintang dihadapi; Alhamdulillah, akhirnya saya dapat menjejakkan kaki di kampus yang saya impikan selama ini, fakultas ilmu komputer universitas indonesia. Setahun penantian memang bukan waktu yang pendek, banyak sekali warna-warni hidup yang menghiasi hari-hari saya. Bertemu dengan teman-teman inspiratif, bepergian ke alam bebas, hingga berbagai aktivitas yang mempermudah pencarian jati diri saya sebenarnya.
Banyak sekali transformasi yang harus saya lakukan untuk menyesuaikan diri di kampus baru ini. Mulai dari cara belajar, mengambil keputusan, hingga menentukan skala prioritas. Semuanya mungkin bukan hal yang baru bagi saya, namun yang terpenting dan tersulit mungkin adalah merubah cara pandang atau orientasi dari objek pembelajaran. Sudah setahun ini mata saya ‘hijau-hijau’ penuh dengan pengamatan tentang ilmu hayati. Seperangkat komputer yang sejak SMA menjadi bagian dari hobi saya menjadi tergantikan fungsinya menjadi word processor standar yang mengurusi urusan ketik-mengetik.
Kini saya harus bangkit lagi, kuliah ditempat yang diinginkan tentu menjadi penyemangat untuk belajar dan meraih cita-cita. Setahun belakangan dimana saya ‘gagap teknologi’ tentu menjadi cambuk untuk mengejar ketertinggalan. Apalagi berkuliah ditengah orang-orang luar biasa yang punya prestasi hingg skala internasional. Tentunya, 4tahun kedepan (insya Allah) akan saya manfaatkan sebaik mungkin untuk mengenal teknologi dengan lebih dekat serta mengembangkannya dan membaginya kepada masyarakat. So, Selamat datang dunia yang penuh dengan teknologi, dimana masa depan ku menanti.
Filed under: pribadi | Tagged: fasilkom, septian hadi nugraha | Leave a Comment »
Teknologi, yang menjadi racun anak negri
Kemarin malam, seperti biasa saya mampir ke warnet sebelah rumah, sekedar melepas penat maupun meng-update info info terbaru seputar aktivitas kampus yang sedemikian padatnya. Seperti biasa, warnet tsb selalu dipenuhi remaja-remaja yang hanya menghabiskan waktunya dengan bermain game dan game.
Namun bukan hanya remaja, saya juga melihat beberapa anak yang boleh dibilamg masih ‘bau kencur’ untuk berada di warnet. Mungkin di jaman saya, anak-anak dengan usia tsb belum mengenal yang namanya komputer, apalagi internet. Sadar juga kalau perkembangan teknologi lebih cepat dari yang saya duga. Asal tahu saja, saya masih menganggap kampung tempat saya tinggal sebagai kampung yang ‘gaptek’ alias gagap teknologi, dan merasa sombonglah saya karena berkuliah di bidang yang sangat erat dengan teknologi. Namun anggapan itu musnah, melihat anak-anak tsb dengan lincah dan riangnya mengendalikan mouse komputer kesana kemari sambil tertawa tetapi sayang game yang dimainkan adalah permainan untuk dewasa. Dari game legendaris macam Counter Strike, hingga game-game online populer macam DoTA dsb ternyata sudah mereka kuasai dengan baik. Ironisnya, sambil bermain mereka menirukan kata-kata tak pantas yang ada di dalam game tersebut dan parahnya remaja-remaja yang disamping mereka malah menyemangati dan memberi bantuan kepada mereka.
Saya pun tak habis pikir, betapa keadaan ternyata telah berubah begitu cepat berubah di lingkungan saya tinggal ini. Teknologi, yang pada mulanya diciptakan manusia untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat ternyata memang telah banyak menyimpang jauh dari filosofi awalnya. Meskipun sisi positifnya sangat membantu manusia dalam mengerjakan aktivitasnya, tak bisa kita pungkiri bahwa teknologi informasi telah membawa manusia ke dalam budaya baru yang membuat kita terlena akan kemudahannya serta ketergantungan yang sangat adiktif jika tidak menggunakannya dengan bijaksana.
Banyak sekali contohnya, penggunaan teknologi informasi yang menjadi budaya umum saat ini, contohnya mungkin adalah budaya online disaat senggang bahkan saat bangun tidur. Lama kelamaan, manusia di masa depan mungkin lebih individualis dan apatis terhadap lingkungannya, meskipun saat ini penggunaan situs jejaring sosial sangat marak digunakan dalam berkomunikasi, namun dalam realita sebenarnya saya sering menemui hal-hal yang kontradiktif. Seringkali saya melihat kelakuan teman-teman saya sangat berbeda di dunia maya dengan dunia nyata. Contohnya, banyak teman-teman saya yang sangat aktif di forum internet, facebook, dan di dunia maya namun dalan kehidupannya di dunia nyata mereka memiliki sifat yang berkebalikan. Contohnya, sering saya mengira sifat seseorang di berbagai forum di internet dari nada tulisan mereka nampak sifatnya yang sociable atau aktif dalam pergaulan, namun ketika melihatnya di dunia nyata, ternyata sifat yang muncul adalah pribadi yang kalem dan nampak kurang supel. Well, hal ini memang tidak terjadi sepenuhnya pada setiap orang, namun mungkin itulah salah satu dampak penggunaan teknologi informasi dimana kita sering bertemu dengan dunia yang kadang abstrak dan tak sesuai dengan realita.
Sebagai penutup, kita harusnya lebih peduli terhadap perkembangan adik-adik kita terutama menjaga mereka dari dampak-dampak negatif yang ditimbulkan oleh teknologi. Karena nantinya merekalah yang mengemban amanah untuk menjaga dan memperbaiki kehidupan bangsa ini. Peran orang tua sebagai pembimbing tentu sangat dibutuhkan ditambah dengan regulasi pemerintah yang dapat menjaga anak-anak kita dari keterpurukan.
Filed under: dunia kita, opini | Tagged: dampak internet, dampak negatif game, dampak negatif internet, game online, perkembangan anak, teknologi informasi | Leave a Comment »
Mencari nasionalisme sejati, bukan yang sakit hati
Akhir-akhir ini, jiwa nasionalisme masyarakat Indonesia begitu membara ketika melihat harga diri bangsanya kembali dihina. Budaya yang menjadi identitas kebanggan bangsa, lagi-lagi mendapat perlakuan yang tak pantas dari negeri tetangga yang mengaku sebagai saudara muda. Sebuah budaya yang tentunya berasal dari wilayah yang menjadi ikon bangsa di tengah pergaulan dunia. Dan ketika kisah tersebut tersiar, seluruh elemen masyarakat mulai dari kasta teerndah hingga para penguasa pun bergejolak, membara, dan terbangkit kembali jiwa nasionalismenya. Sebuah tari yang penuh dengan keelokan dan anggun gerakannya; tari pendet dari Bali, sungguh menjadi motor penggerak nasionalisme bangsa di tengah perayaan kemerdekaan ini.
Ini bukan pertama kalinya bangsa kita dihina, dipermalukan, atau bahkan diinjak-injak oleh pihak lain yang tamak dan mengambil tanpa hak. Namun, tren yang ada selalu terjadi dengan kondisi yang sama. Luapan emosi yang meletup-letup dan membangkitkan kembali semangat nasionalisme yang biasanya tidur dan hampa tak terasa. Sebuah reaksi wajar yang terjadi di negeri yang merdeka oleh perjuangan gigih para pahlawannya. Namun, di masa modern ini apakah nasionalisme hanya akan muncul ketika harga diri bangsa terinjak-injak dan dipermalukan? Tentu kita tidak mengharapkan demikian, nasionalisme yang murni dan sejati adalah yang konsisten untuk terus berbangga diri dan berupaya untuk berkontribusi bagi masa depan bangsa ini, dengan berusaha semaksimal mungkin pada setiap bidang yang kita kuasai. Kiranya sudah cukup bagi kita untuk melihat sikap nasionalisme yang tumbuh akibar rasa sakit hati. Selain itu, kita harus sadar untuk terus menjaga tradisi dan budaya di negeri ini, karena mungkin oleh rasa cinta kita yang berkurang maka sedikit demi sedikit bagian dari bangsa ini berkurang diklaim oleh pihak lain.
Dengan tidak lupa untuk terus menjaga kelestarian budaya, marilah kita intropeksi diri akan kelemahan bangsa ini agar tidak lagi dipermalukan oleh bangsa lain,
karena sejatinya harga diri bangsa yang tinggi hanya dapat diraih lewat nasionalisme yang sejati, bukan yang sakit hati!
~Bangkit bangsaku~
Filed under: opini | Tagged: indonesia, malaysia, malingsia, nasionalisme, pembajakan budaya, pencurian budaya, tari pendet | Leave a Comment »






