Posted by: Septian Hadi | September 8, 2009

Musibah, Sebuah Renungan di Bulan Ramadhan

Belum genap seminggu, tanah Jawa kembali ‘diguncang’ oleh gempa pada Senin tengah malam. Suasana malam yang tenang, berubah menjadi mencekam di kala bumi berguncang. BMKG mencatat gempa tersebut berkekuatan 6,8 skala Richter dan berpusat di 263 kilometer Tenggara Wonosari, Yogyakarta; dan tergolong kuat untuk meruntuhkan suatu bangunan. Untung saja, hingga kini belum ditemukan kerusakan yang berarti maupun korban jiwa atas musibah tersebut. Hal ini berbeda dengan gempa yang terjadi pada hari Rabu lalu yang berkekuatan 7,3 skala Richter dan berpusat di barat daya Tasikmalaya. Gempa tersebut merusak banyak infrastruktur di bagian selatan Provinsi Jawa Barat dan memakan puluhan korban jiwa, sementara ribuan lainnya harus mengungsi dan dievakuasi karena rusaknya tempat tinggal yang mereka miliki.

Gempa, adalah salah satu bencana yang tidak bisa diprediksi kehadirannya. Teknologi tercanggih sekalipun belum mampu mendeteksi bencana ini beberapa waktu sebelum kejadiannya. Hal yang paling maksimal yang bisa dilakukan manusia adalah bersikap waspada pada daerah yang berpotensi gempa, sekaligus menguasai tindakan-tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi gempa.

Musibah ini tentu sangat memprihatinkan, apalagi kita tengah berada di Bulan Ramadhan yang membutuhkan kekhusyu’an serta ketenangan dalam menjalankan ibadah. Tetapi dibalik itu semua, ada banyak hikmah yang tentunya dapat menjadi renungan untuk kita semua.

Musibah gempa yang terjadi pada Rabu lalu, ternyata mendorong banyak pihak untuk mengulurkan bantuan kemanusiaan kepada mereka yang membutuhkan. Lihat saja, banyak media-media yang membuka rekening mereka untuk membantu masyarakat mengulurkan sebagian harta mereka. Banyak pula pos-pos pendaftaran relawan untuk membantu mencari korban yang hilang atau mendirikan kembali infrastruktur yang hancur. Dan mudah-mudahan perilaku tolong menolong ini bukan hanya kita temui pada saat terjadi bencana atau pada saat bulan Ramadhan saja, tetapi meresap dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang tentunya membutuhkan ujian yang besar untuk membuatnya tetap kokoh berdiri sebagai bangsa yang dihargai dan dihormati di dunia, sekaligus menghormati hak-hak masyarakatnya. Mungkin dari berbagai rangkaian bencana yang menimpa bangsa Indonesia, adalah ujian untuk membuatnya belajar dari kesalahan dan menempa diri menjadi bangsa yang besar. Bencana tsunami di Aceh misalnya, ternyata melahirkan masyarakat Aceh yang damai dan bersatu. Tentu kita tidak mengharapkan adanya bencana untuk memperbaiki kualitas bangsa kita. Tetapi jadikanlah sebagai sebuah ‘teguran’ dari Tuhan bahwa kita telah melakukan kesalahan dan haruslah memperbaiki diri untuk mencapai kondisi yang lebih baik.

Apalagi di Bulan Suci Ramadhan, yang penuh berkah dan imbalan pahala. Tentu menjadi semangat kita untuk membantu mereka yang terkenaa bencana. Karena mungkin, kita sudah sangat lupa untuk berbagai terhadap sesama.

Posted by: Septian Hadi | September 8, 2009

Gudbye Gaptek, Welkom Hi-Tek

Apa yang kini terjadi dalam sebulan terakhir hidup saya boleh dibilang adalah penantian selama hampir dua tahun terakhir. Setelah masa-masa ‘keras’ menghampiri, berbagai ujian, cobaan dan aral yang melintang dihadapi; Alhamdulillah, akhirnya saya dapat menjejakkan kaki di kampus yang saya impikan selama ini, fakultas ilmu komputer universitas indonesia. Setahun penantian memang bukan waktu yang pendek, banyak sekali warna-warni hidup yang menghiasi hari-hari saya. Bertemu dengan teman-teman inspiratif, bepergian ke alam bebas, hingga berbagai aktivitas yang mempermudah pencarian jati diri saya sebenarnya.

Banyak sekali transformasi yang harus saya lakukan untuk menyesuaikan diri di kampus baru ini. Mulai dari cara belajar, mengambil keputusan, hingga menentukan skala prioritas. Semuanya mungkin bukan hal yang baru bagi saya, namun yang terpenting dan tersulit mungkin adalah merubah cara pandang atau orientasi dari objek pembelajaran. Sudah setahun ini mata saya ‘hijau-hijau’ penuh dengan pengamatan tentang ilmu hayati. Seperangkat komputer yang sejak SMA menjadi bagian dari hobi saya menjadi tergantikan fungsinya menjadi word processor standar yang mengurusi urusan ketik-mengetik.

Kini saya harus bangkit lagi, kuliah ditempat yang diinginkan tentu menjadi penyemangat untuk belajar dan meraih cita-cita. Setahun belakangan dimana saya ‘gagap teknologi’ tentu menjadi cambuk untuk mengejar ketertinggalan. Apalagi berkuliah ditengah orang-orang luar biasa yang punya prestasi hingg skala internasional. Tentunya, 4tahun kedepan (insya Allah) akan saya manfaatkan sebaik mungkin untuk mengenal teknologi dengan lebih dekat serta mengembangkannya dan membaginya kepada masyarakat. So, Selamat datang dunia yang penuh dengan teknologi, dimana masa depan ku menanti.

Posted by: Septian Hadi | August 28, 2009

Teknologi, yang menjadi racun anak negri

Kemarin malam, seperti biasa saya  mampir ke warnet sebelah rumah, sekedar melepas penat maupun meng-update info info terbaru seputar aktivitas kampus yang sedemikian padatnya. Seperti biasa, warnet tsb selalu dipenuhi remaja-remaja yang hanya menghabiskan waktunya dengan bermain game dan game.

Namun bukan hanya remaja, saya juga melihat beberapa anak yang boleh dibilamg masih ‘bau kencur’ untuk berada di warnet. Mungkin di jaman saya, anak-anak dengan usia tsb belum mengenal yang namanya komputer, apalagi internet. Sadar juga kalau perkembangan teknologi lebih cepat dari yang saya duga. Asal tahu saja, saya masih menganggap kampung tempat saya tinggal sebagai kampung yang ‘gaptek’ alias gagap teknologi, dan merasa sombonglah saya karena berkuliah di bidang yang sangat erat dengan teknologi. Namun anggapan itu musnah, melihat anak-anak tsb dengan lincah dan riangnya mengendalikan mouse komputer kesana kemari sambil tertawa tetapi sayang game yang dimainkan adalah permainan untuk dewasa. Dari game legendaris macam Counter Strike, hingga game-game online populer macam DoTA dsb ternyata sudah mereka kuasai dengan baik. Ironisnya, sambil bermain mereka menirukan kata-kata tak pantas yang ada di dalam game tersebut dan parahnya remaja-remaja yang disamping mereka malah menyemangati dan memberi bantuan kepada mereka.

Saya pun tak habis pikir, betapa keadaan ternyata telah berubah begitu cepat berubah di lingkungan saya tinggal ini. Teknologi, yang pada mulanya diciptakan manusia untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat ternyata memang telah banyak menyimpang jauh dari filosofi awalnya.  Meskipun sisi positifnya sangat membantu manusia dalam mengerjakan aktivitasnya, tak bisa kita pungkiri bahwa teknologi informasi telah membawa manusia ke dalam budaya baru yang membuat kita terlena akan kemudahannya serta ketergantungan yang sangat adiktif jika tidak menggunakannya dengan bijaksana.

Banyak sekali contohnya, penggunaan teknologi informasi yang menjadi budaya umum saat ini, contohnya mungkin adalah budaya online disaat senggang bahkan saat bangun tidur. Lama kelamaan, manusia di masa depan mungkin lebih individualis dan apatis terhadap lingkungannya, meskipun saat ini penggunaan situs jejaring sosial sangat marak digunakan dalam berkomunikasi, namun dalam realita sebenarnya saya sering menemui hal-hal yang kontradiktif. Seringkali saya melihat kelakuan teman-teman saya sangat berbeda di dunia maya dengan dunia nyata. Contohnya, banyak teman-teman saya yang sangat aktif di forum internet, facebook, dan di dunia maya namun dalan kehidupannya di dunia nyata mereka memiliki sifat yang berkebalikan. Contohnya, sering saya mengira sifat seseorang di berbagai forum di internet dari nada tulisan mereka nampak sifatnya yang sociable atau aktif dalam pergaulan, namun ketika melihatnya di dunia nyata, ternyata sifat yang muncul adalah pribadi yang kalem dan nampak kurang supel. Well, hal ini memang tidak terjadi sepenuhnya pada setiap orang, namun mungkin itulah salah satu dampak penggunaan teknologi informasi dimana kita sering bertemu dengan dunia yang kadang abstrak dan tak sesuai dengan realita.

Sebagai penutup, kita harusnya lebih peduli terhadap perkembangan adik-adik kita terutama menjaga mereka dari dampak-dampak negatif yang ditimbulkan oleh teknologi. Karena nantinya merekalah yang mengemban amanah untuk menjaga dan memperbaiki kehidupan bangsa ini. Peran orang tua sebagai pembimbing tentu sangat dibutuhkan ditambah dengan regulasi pemerintah yang dapat menjaga anak-anak kita dari keterpurukan.

Posted by: Septian Hadi | August 26, 2009

Mencari nasionalisme sejati, bukan yang sakit hati

Akhir-akhir ini, jiwa nasionalisme masyarakat Indonesia begitu membara ketika melihat harga diri bangsanya kembali dihina. Budaya yang menjadi identitas kebanggan bangsa, lagi-lagi mendapat perlakuan yang tak pantas dari negeri tetangga yang mengaku sebagai saudara muda. Sebuah budaya yang tentunya berasal dari wilayah yang menjadi ikon bangsa di tengah pergaulan dunia. Dan ketika kisah tersebut tersiar, seluruh elemen masyarakat mulai dari kasta teerndah hingga para penguasa pun bergejolak, membara, dan terbangkit kembali jiwa nasionalismenya. Sebuah tari yang penuh dengan keelokan dan anggun gerakannya; tari pendet dari Bali, sungguh menjadi motor penggerak nasionalisme bangsa di tengah perayaan kemerdekaan ini.

Ini bukan pertama kalinya bangsa kita dihina, dipermalukan, atau bahkan diinjak-injak oleh pihak lain yang tamak dan mengambil tanpa hak. Namun, tren yang ada selalu terjadi dengan kondisi yang sama. Luapan emosi yang meletup-letup dan membangkitkan kembali semangat nasionalisme yang biasanya tidur dan hampa tak terasa. Sebuah reaksi wajar yang terjadi di negeri yang merdeka oleh perjuangan gigih para pahlawannya. Namun, di masa modern ini apakah nasionalisme hanya akan muncul ketika harga diri bangsa terinjak-injak dan dipermalukan? Tentu kita tidak mengharapkan demikian, nasionalisme yang murni dan sejati adalah yang konsisten untuk terus berbangga diri dan berupaya untuk berkontribusi bagi masa depan bangsa ini, dengan berusaha semaksimal mungkin pada setiap bidang yang kita kuasai. Kiranya sudah cukup bagi kita untuk melihat sikap nasionalisme yang tumbuh akibar rasa sakit hati. Selain itu, kita harus sadar untuk terus menjaga tradisi dan budaya di negeri ini, karena mungkin oleh rasa cinta kita yang berkurang maka sedikit demi sedikit bagian dari bangsa ini berkurang diklaim oleh pihak lain.

Dengan tidak lupa untuk terus menjaga kelestarian budaya, marilah kita intropeksi diri akan kelemahan bangsa ini agar tidak lagi dipermalukan oleh bangsa lain,

karena sejatinya harga diri bangsa yang tinggi hanya dapat diraih lewat nasionalisme yang sejati, bukan yang sakit hati!

~Bangkit bangsaku~

Posted by: Septian Hadi | August 26, 2009

Keutamaan Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan tentu menjadi berkah bagi setiap kaum muslimin dalam rangka memperbanyak amal  ibadah dan menghapus dosa-dosa mereka. Apalagi, perintah wajib berpuasa yang diserukan oleh Rasulullah SAW tidak ada pada ajaran Rasul – Rasul sebelumnya. Hal ini dikarenakan umat Nabi Muhammad SAW memiliki umur hidup yang relatif pendek dibandingkan umat – umat sebelumnya. Namun Allah memberikan bantuan berupa Bulan Ramadhan bagi umat Nabi Muhammad SAW agar mereka juga memiliki amal ibadah yang sama banyaknya dengan umat-umat terdahulu.

Berikut keutamaan dari Bulan Ramadhan yang saya sadur dari situs Al Bashiroh :

Dari Abu Hurairah r.a.

Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

Dari Ubadah bin Ash Shamit, Rasulullas SAW bersabda :

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. ” (HR.Ath-Thabrani, dan para periwayatnya terpercaya).

Al-Mundziri berkata: “Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Al-Baihaqi, keduanya dari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pemah mendengar darinya.”

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga),’Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, ‘pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. “Beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar’ Jawab beliau, ‘Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.’ ” (HR. Ahmad)’”

Isnad hadits tersebut dha’if, dan di antara bagiannya ada nash-Nash lain yang memperkuatnya.

Selain itu, Bulan Ramadhan dianggap istimewa karena banyak peristiwa penting yang terjadi di dalamnya bagi umat islam, diantaranya adalah :

Puasa Ramadhan adalah rukun keempat dalam Islam

Firman Allah Ta’ala :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan asas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah : 183).

Sabda Nabi:

Islam didirikan di atas lima sendi, yaitu: syahadat tiada sembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji ke Baitul Haram.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Ibadah puasa merupakan salah satu sarana penting untuk mencapai takwa, dan salah satu sebab untuk mendapatkan ampunan dosa-dosa, pelipatgandaan kebaikan, dan pengangkatan derajat. Allah telah menjadikan ibadah puasa khusus untuk diri-Nya dari amal-amal ibadah lainnya. Firman Allah dalam hadits yang disampaikan oleh Nabi:

“Puasa itu untuk-Ku dan Aku langsung membalasnya. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum dari pada aroma kesturi.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Dan sabda Nabi :

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Maka untuk memperoleh ampunan dengan puasa Ramadhan, harus ada dua syarat berikut ini:

  • Mengimani dengan benar akan kewajiban ini.
  • Mengharap pahala karenanya di sisi Allah Ta ‘ala.

Turunnya Al-Qur’an

Pada bulan Ramadhan diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia dan berisi keterangan-keterangan tentang petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang bathil.

Shalat Tarawih

Pada bulan ini disunatkan shalat tarawih, yakni shalat malam pada bulan Ramadhan, untuk mengikuti jejak Nabi, para sahabat dan Khulafaur Rasyidin. Sabda Nabi:

“Barangsiapa mendirikan shalat malam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah) niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Lailatul Qadar

Pada bulan ini terdapat Lailatul Qadar (malam mulia), yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, atau sama dengan 83 tahun 4 bulan. Malam di mana pintu-pintu langit dibukakan, do’a dikabulkan, dan segala takdir yang terjadi pada tahun itu ditentukan. Sabda Nabi :

“Barangsiapa mendirikan shalatpada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, dari Allah niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Malam ini terdapat pada sepuluh malam terakhir, dan diharapkan pada malam-malam ganjil lebih kuat daripada di malam-malam lainnya. Karena itu, seyogianya seorang muslim yang senantiasa mengharap rahmat Allah dan takut dari siksa-Nya, memanfaatkan kesempatan pada malam-malam itu dengan bersungguh-sungguh pada setiap malam dari kesepuluh malam tersebut dengan shalat, membaca Al-Qur’anul Karim, dzikir, do’a, istighfar dan taubat yang sebenar-benamya. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni, merahmati, dan mengabulkan do’a kita.

Perang Badar

Pada bulan ini terjadi peristiwa besar yaitu Perang Badar, yang pada keesokan harinya Allah membedakan antara yang haq dan yang bathil, sehingga menanglah Islam dan kaum muslimin serta hancurlah syirik dan kaum musyrikin.

Pembebasan Mekah

Pada bulan suci ini terjadi pembebasan kota Makkah Al-Mukarramah, dan Allah memenangkan Rasul-Nya, sehingga masuklah manusia ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong dan Rasulullah menghancurkan syirik dan paganisme (keberhalaan) yang terdapat di kota Makkah, dan Makkah pun menjadi negeri Islam.

Pembukaan Pintu Surga dan Diikatnya Setan

Pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup dan para setan diikat.

Betapa banyak berkah dan kebaikan yang terdapat dalam bulan Ramadhan. Maka kita wajib memanfaatkan kesempatan ini untuk bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan beramal shalih, semoga kita termasuk orang-orang yang diterima amalnya dan beruntung.

Perlu diingat, bahwa ada sebagian orang –semoga Allah menunjukinya- mungkin berpuasa tetapi tidak shalat, atau hanya shalat pada bulan Ramadhan saja. Orang seperti ini tidak berguna baginya puasa, haji, maupun zakat. Karena shalat adalah sendi agama Islam yang ia tidak dapat tegak kecuali dengannya. Sabda Nabi :

“Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, namun setelah bulan itu habis dan ia tidak mendapat ampunan, maka jika mati ia masuk Neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan: Amin!. Aku pun mengatakan: Amin. ” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya) “‘ Lihat kitab An Nasha i’hud Diniyyah, him. 37-39.

Maka seyogianya waktu-waktu pada bulan Ramadhan dipergunakan untuk berbagai amal kebaikan, seperti shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, dzikir, do’a dan istighfar. Ramadhan adalah kesempatan untuk menanam bagi para hamba Ailah, untuk membersihkan hati mereka dari kerusakan.

Juga wajib menjaga anggota badan dari segala dosa, seperti berkata yang haram, melihat yang haram, mendengar yang haram, minum dan makan yang haram agar puasanya menjadi bersih dan diterima serta orang yang berpuasa memperoleh ampunan dan pembebasan dari api Neraka.

Tentang keutamaan Ramadhan, bersabda:

‘”Aku melihat seorang laki-laki dari umatku terengah-engah kehausan, maka datanglah kepadanya puasa bulan Ramadhan lalu memberinya minum sampai kenyang ” (HR. At-Tirmidzi, Ad-Dailami dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dan hadits ini hasan).

“Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke shalat Jum ‘at lainnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antaranya jika dosa-dosa besar ditinggalkan. ” (HR.Muslim).

Jadi hal-hal yang fardhu ini dapat menghapuskan dosa-dosa kecil, dengan syarat dosa-dosa besar ditinggalkan. Dosa-dosa besar, yaitu perbuatan yang diancam dengan hukuman di dunia dan siksaan di akhirat. Misalnya: zina, mencuri, minum arak, mencaci kedua orang tua, memutuskan hubungan kekeluargaan, transaksi dengan riba, mengambil risywah (uang suap), bersaksi palsu, memutuskan perkara dengan selain hukum Allah.

Seandainya tidak terdapat dalam bulan Ramadhan keutamaan-keutamaan selain keberadaannya sebagai salah satu fardhu dalam Islam, dan waktu diturunkannya Al-Qur’anul Karim, serta adanya Lailatul Qadar -yang merupakan malam yang lebih balk daripada seribu bulan- di dalamnya, niscaya itu sudah cukup, Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya. Lihat kitab Kalimaat Mukhtaarah, hlm. 74 – 76.

Dan apakah kita masih berdiam diri melihat banyaknya keutamaan dan keistimewaan di bulan Ramadhan ini. Marilah sejenak kita tinggalkan hingar bingar dunia untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT di bulan yang suci ini.

Older Posts »

Categories