Gencatan Senjata Israel-Hamas Klaim Kemenangan dari Kedua Belah Pihak

Posted: January 23, 2009 in dunia kita, opini
Tags: , , , ,

Gencatan Senjata Israel-Hamas

Klaim Kemenangan dari Kedua Belah Pihak

Setelah 22 hari perang antara Hamas dan Israel berkecamuk, kedua pihak pun sepakat mengadakan gencatan senjata. Gencatan senjata yang pada awalnya hanya dilakukan sepihak oleh Israel pun akhirnya disetujui oleh Hamas meski ditambah dengan beberapa pasal yang sebelumnya ditolak mentah-mentah oleh Israel, seperti penarikan Pasukan Israel sepenuhnya dari Jalur Gaza misalnya.

Bencana katastropik yang dihasilkan dari perang ini memang luar biasanya besarnya. PBB sendiri dalam rilisnya menyatakan bahwa Gaza membutuhkan milyaran dollar US untuk membangun kembali infrastrukturnya. Selain itu, 1,4 juta jiwa penduduk Palestina di Jalur Gaza pun harus menanggung beban moril dan psikologis yang begitu mendalam akibat kehilangan rumah, sanak saudara, maupun harta benda lainnya.

Di pihak Israel pun demikian, walau kerugian yang ditimbulkan tak sebesar yang diterima oleh pihak Palestina. Tak kurang dari ratusan ribu penduduk Israel Selatan pun harus terus berlindung dalam ketakutan akan roket-roket Hamas yang semakin jauh daya jangkauannya.

Namun yang pasti, perseturuan di antara kedua belah pihak boleh dibilang akan semakin memanas. Rakyat dari kedua negara tersebut boleh dibilang akan semakin saling membenci karena rasa dendam yang terus menerus timbul akibat dari perang ini.

Dalam sejarah peperangan, gencatan senjata bukanlah akhir atau bahkan penentu dari suatu pertempuran. Justru dari gencatan senjata inilah terlihat kemampuan dari dua belah pihak yang tak mampu mencapai tujuan mereka. Walaupun pada akhirnya tujuan gencatan senjata ini sangat penting dan mendesak seperti mencegah korban yang terus bergelimpangan serta memberi waktu kepada bantuan kemanusiaan untuk menjalankan tugasnya.

Gencatan senjata juga sangat riskan untuk dilakukan jika tidak adanya pihak penengah atau negara netral yang berani ambil bagian untuk mengamankan situasi setelah perang terjadi. Jangankan gencatan senjata (cease fire), kesepakatan damai (peace deal) pun sangat rentan untuk memungkinkan terjadinya perang kembali.

Tentu kita masih ingat ketika Jerman tidak menaati perjanjian damai Versailles sehingga mereka dengan seenaknya menambah jumlah persenjataan dan mengancam kedaulatan negara lain sehingga mengakibatkan Perang Dunia. Dalam Perang antara Hamas dan Israel ini, tidak ada kesepakatan damai (peace deal) yang lazim dilakukan untuk mengakhiri perang. Tidak disebutkan pula pihak mana yang harus membayar kerugian yang diakibatkan, para penjahat perang yang melakukan kejahatan kemanusiaan pun tak juga diadili. Tak ada pula parade militer yang lazim dilakukan oleh pihak yang memenangkan pertempuran.

Israel dilihat dari segi korban jiwa mungkin dianggap telah memenangkan perang ini. Namun seperti yang saya katakan dalam tulisan saya sebelumnya, jumlah korban jiwa bukanlah ukuran untuk mengklaim kemenangan, namun tujuan militer-lah yang harus diperhitungkan. Dalam perang 22 hari kemarin, tujuan militer Israel jelas untuk menghentikan serangan roket dari Palestina dan mencegah penyelundupan senjata. Namun yang terjadi adalah Israel Selatan terus menerus diserang oleh roket Hamas dengan rata-rata 70 roket sehari, bahkan pada hari terakhir sebelum ditetapkannya gencatan senjata, Hamas masih mampu meluncurkan 20 roketnya. Kota Gaza secara militer pun belum dikuasai Israel, karena hampir setiap harinya mereka masih harus bertempur dengan para pejuang Palestina. Bahkan boleh jadi, gencatan senjata yang diinisiasi oleh Israel hanyalah kedok belaka untuk menutupi kerugian dan ketidak berhasilan di pihaknya.

Di pihak Hamas, keteguhan para milisinya patut mendapat pujian. Namun semangat mereka yang membara tak mampu sepenuhnya mencegah dan melindungi korban jiwa di pihak rakyat sipil yang tentunya tidak mengangkat senjata. Tujuan militer Hamas yakni mengusir sepenuhnya tentara Israel dari Jalur Gaza memang tercapai, namun itu semua harus dilakukan bukan dengan cara militer namun dari gencatan senjata yang sangat rentan tentunya. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan olehpihak Hizbullah dalam perang 34 hari dengan Israel di 2006, dimana mereka berhasil menghalau pasukan Israel masuk perbatasan Lebanon serta menghancurkan puluhan tank dan menewaskan sekitar 160 serdadunya. Pasukan Israel pun ditarik dari posisinya tanpa kesepakatan gencatan senjata karena tidak berhasil mencapai tujuan militernya.

Kedua pihak mungkin boleh mengklaim kemenangan, namun kemenangan sesungguhnya justru ada di pihak pers dan warga sipil di Palestina. Mereka berhasil bertahan dan mampu memenangkan opini publik yang tentunya menghentikan perang ini.

“Jika tak ada lagi kedamaian sejati di dunia ini, akankah hati ini kan membawa kedamaian yg suci nan abadi?”

-Septian Hadi-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s