IDEALISME BUKAN HARGA MATI

Posted: April 25, 2009 in opini
Tags: , ,

Hidup, selalu melahirkan dinamika. Dinamika yang terjadi akibat kondisi lingkungan, maupun dinamika yang terjadi akibat perubahan diri. Dalam roda kehidupan yang terus berputar, seorang manusia haruslah dapat beradaptasi dengan berbagai dinamika yang ada. Disinilah fungsi sosial manusia sangat berperan penting di dalamnya, mereka yang terus aktif dan terus mengaktualisasi diri, adalah orang-orang yang survive dalam perjalanan hidupnya. Namun kita juga harus yakini bahwa jalan hidup seseorang adalah sebuah kemerdekaan yang hakiki dan tdk dapat diganggu gugat oleh orang lain, dan banyak diantara mereka yang memilih hidup dalam dunianya sendiri atau bahkan memilih bebas untuk hidup dalam ikatan yang tak jelas dalam dunia yang mereka sebut dunia tanpa batas.

.

Untuk itulah, manusia membutuhkan sebuah pedoman, pegangan, atau panduan untuk menerangi jalan hidupnya yang gelap gulita. Bagi mereka yang beragama, kitab Tuhan mungkin menjadi petunjuk utama untuk menemani hidup mereka. Bagi mereka yang gemar beraktivitas dan berorganisasi, sebuah idealisme mungkin cukuplah sebagai pembayar jerih keringat mereka. Sementara yang lain mungkin cukup bahagia dengan ego pribadi serta sikap individualis mereka. Dari dua pilihan yang pertama, mungkin kita harus mengikuti sebuah aturan yang jelas dan mengekang namun dengan tujuan akhir yang pasti, namun bagi mereka yang memilih hidup bebas tanpa keterikatan bukan berarti mereka tidak memiliki tujuan akhir yang pasti kebahagian dunia yang hakiki mungkin menjadi salah satu motivasi.

.

Semua hal di atas, bagi saya tidak akan berarti jika mereka tidak mengikuti dinamika hidup yang ada. Pribadi yang statis akan berdampak pada lingkungan yang statis dan tentu akan melahirkan dunia yang statis, sebuah kondisi yang tidak kita inginkan tentunya. Yang menarik adalah mereka yang terkadang terus berusaha konsisten terhadap pedomannya justru adalah mereka yang statis atau apatis terhadap gejolak perubahan yang ada. Disinilah kita perlu benar-benar mengkritisi berbagai pedoman yang sebenarnya terkadang menghambat diri kita untuk lebih adaptif terhadap perubahan yang ada.

.

Yang pertama adalah agama, sebenarnya saya cukup sungkan untuk membahasnya disini karena memasuki wilayah yang sangat vital terhadap kehidupan pribadi manusia. Namun seperti yang kita lihat saat ini, banyak sekali penafsiran terhadap suatu agama oleh para pemeluknya. Hal ini akan menjadi sangat mengkhawatirkan karena bukannya menambah keragaman, namun malah menambah perseturuan yang ada. Agama yang seharusnya lampu penerang kehidupan, justru malah dijadikan alat untuk memusuhi kelompok lain serta menghambat proses perubahan yang ada. Ini tidak sesuai dengan hakikat agama yang saya anut bahwa agama-lah yang memfasilitasi kita untuk mencapai perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Gejolak perubahan memang tidak seluruhnya positif, namun para pemeluk agama-lah yang seharusnya memegang kendali akan perubahan tersebut mengingat hawa nafsu manusia yang sangat tinggi akan sebuah perubahan. Karena itulah saya sangat menyayangkan pihka-pihak yang menggunakan dalil agama untuk menolak gejolak perubahan yang ada. Hal yang telah terjadi tak bisa diubah, namun kitalah yang harus mengendalikannya.

.

Yang kedua adalah idealisme, sebuah kata-kata sakral yang biasa didengungkan oleh para profesional, aktivis, maupun organisatoris. Idealis, itulah sebutan bagi mereka yang setia menjiwainya. Dari dunia musik, dimana band indie dengan idealisme mereka menolak untuk masuk major label; hingga para mahasiswa dengan idealisme mereka menolak untuk bersahabat dengan penguasa. Semuanya tidak salah, karena tentunya mereka pasti memiliki alasan dibaliknya. Namun yang saya pertanyakan adalah KONSISTENSI dari diri mereka dalam melaksanakan idealisme tersebut. Banyak sekali kita lihat di berbagai media kasus tentang mantan aktivis yang terganjal masalah korupsi atau bahkan membelot dari gerakan yang telah mereka ikuti. Banyak lagi mereka yang tidak bisa membuka cakrawala dunia dan hanya berpandangan sempit terhadap suatu persoalan hanya karena mereka berada di posisi tempat idealisme itu berada atau hanya sekadar ikut-ikutan terlebih gengsi-gengsian. Bagi saya itu adalah salah satu bukti bahwa IDEALISME BUKANLAH HARGA MATI, idealisme memang takkan pernah hilang namun akan terus memudar seiring dengan perkembangan zaman yang menuntut manusia untuk lebih memenuhi kehidupan pribadinya, maka dari itu dapat saya katakan bahwa IDEALISME itu SEMU!

.

Sebagai makhluk sosial, kita tentu diajarkan untuk mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa kita tidak akan bisa mengurusi masalah orang lain jika kita sendiri tidak dalam keadaan yang bahagia atau sebuah kondisi yang tentunya dapat membuat kita lebih ikhlas dalam berkontribusi terhadap orang lain. Seringkali kita lupa akan hal tersebut, tentu banyak diantara kita yang sangat kontributif terhadap orang lain, namun mereka tidak menyadari bahwa mereka ternyata berada dalam sebuah masalah serta memiliki kehidupan pribadi yang buruk. Dan banyak diantara mereka menggunakan berbagai dalih seperti idealisme misalnya. Ini semua bukanlah pengorbanan, ini hanyalah penyiksaan terhadap kondisi kejiwaan pribadi yang ternyata tidak kita ketahui.

.

Berbahagialah karena hidup ini adalah milik anda, berbahagialah jika anda dapat berbagi kebahagiaan tersebut kepada orang lain, dan berbahagialah karena hidup ini hanya satu kali karena kita harus menyisakan hal yang terbaik bagi dunia ini.

.

Dan ingatlah, gejolak perubahan akan selalu ada; bukan kuasa kita untuk menahan apalagi menolaknya, melainkan kitalah pengendali utamanya.

Comments
  1. eza1912 says:

    jika memang idealisme itu semu, apa solusimu?
    apa kira-kira kata yang tepat yang akan mengganti kepopuleran kata “idealisme harga mati” itu?
    bukan solusi “idealisme itu semu” yang saya minta y.

  2. Septian Hadi says:

    wah, eza maksih atas komennya
    maaf baru dibales

    sebenarnya tulisan ini bukan pernyataan, tapi lebih kpd hasil pengamatan septian aja,

    sebenarnya kata ‘idealisme’ itu sendiri masih multitafsir, kata ‘ideal’ dan ‘isme’ menunjukkan ideologi seseorang untuk mencoba bertahan dalam kondisi yang ideal atau sesuai dengan dirinya,

    masalahnya dunia ini gak pernah statis dan manusia yang selalu merasa ideal dengan kondisinya tidak mungkin selamanya menolak pengaruh-pengaruh dari lingkungan, melainkan harus berakulturasi juga,

    jadi kata yang lebih tepat mungkin adalah ‘prinsip hidup’
    krn jujur aja, ‘prinsip hidup’ yg septian pegang saat ini lebih kuat dari pada ‘idealisme’ itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s